ALFI Menyambut Positif Peresmian 16 Pelabuhan di Kawasan Timur Indonesia (KTI)

Berkaitan dengan Peresmian Pelabuhan, Ketua umum DPP ALFI, Yukki Nugrahawan Hanafi berpendapat pembangunan infrastruktur di KTI merupakan hal yang sangat positif dalam perspektif pemerataan pembangunan. Dilansir dari bisnis.com, Yukki memberi saran bahwa pembangunan infrastruktur pelabuhan harus dibarengi dengan infrastruktur jalan yang memadai. Tak hanya itu, menurutnya digitalisasi sistem perlu diterapkan dalam semua kegiatan di pelabuhan tersebut.

“Tentunya bukan hanya pelabuhannya saja yang dibangun, tetapi semua infrastruktur jalan menuju dan keluar pelabuhan harus juga memadai agar tidak terjadi kemacetan dimana hal ini terjadi di pelabuhan Jawa. Jadi semua harus terintegrasi dengan moda lainnya,” ucap Yukki, Minggu 26 Agustus 2018. Yukki juga mengatakan,”DPP ALFI juga terus mendorong pelabuhan-pelabuhan di Indonesia untuk digitalisasi mengingat pembangunan fisik saja tidak cukup”.

Hal lain yang perlu dipikirkan terkait peresmian pelabuhan ini adalah mengenai prinsip ship follow the trade, sehingga bagaimana membuat kapal dari KTI dapat terisi diatas 80% mengingat saat ini kapal dari KTI rata-rata baru terisi sebanyak 55%. Yukki mengungkapkan, kapasitas terisi dilihat dari faktor pelabuhan asal kapal, pelabuhan tujuan kapal, ukuran kapal serta kapasitas pelabuhan. Selain itu mata rantai dari pasokan dan jenis komoditasnya juga ikut diperhitungkan. Dari data tersebut, Yukki mengatakan bahwa rata-rata dari wilayah Indonesia timur baru terisi 55% walaupun wilayah Indonesia timur sangat luas.

Peresmian Pelabuhan

Sejumlah 16 proyek yang telah diresmikan tersebut merupakan Proyek Strategis Nasional (PSN) yang dibangun oleh Pelindo IV (Persero) untuk mendorong pembangunan di wilayah timur yang masih tertinggal. Pelabuhan tersebut terdiri dari masing-masing 5 (lima) di Pulau Papua dan Pulau Sulawesi, 4 (empat) di Pulau Kalimantan, dan sisanya di Ambon dan Ternate. Peresmian Pelabuhan yang dilakukan di Pulau Papua yaitu, Pelabuhan Jayapura, Pelabuhan Biak, Pelabuhan Sorong, dan Pelabuhan Manokwari. Sedangkan untuk Pulau Sulawesi, pelabuhan yang diresmikan adalah Pelabuhan Kendari, Pelabuhan Bitung, Pelabuhan Makassar, Pelabuhan Pare-Pare dan Pelabuhan Gorontalo. Untuk Pulau Kalimantan, 4 (empat) pelabuhan tersebut adalah Pelabuhan Balikpapan, Pelabuhan Tarakan, Pelabuhan Nunukan dan Pelabuhan Sangatta. Serta Pelabuhan Ambon dan Pelabuhan Ternate untuk wilayah Ambon dan Ternate.

Rini Soemarno selaku Menteri BUMN mengatakan dalam siaran pers pada hari Jumat 24 Agustus 2018, “Ini sebuah pencapaian yang besar dalam kurun waktu kurang dari tiga tahun. Pembangunan pelabuhan-pelabuhan akan membantu masyarakat terutama dalam mendorong konektivitas laut dan daya saing di wilayah Timur Indonesia. Terima kasih kepada Pelindo IV yang sudah bekerja keras”.

Dukungan dari Pusat Logistik Berikat

Yukki berharap ada sinergi antara semua pihak terkait 16 pelabuhan tersebut. Menurut Yukki, ini bukan hanya tugas dari pemerintah atau Pelindo IV, melainkan tugas dari semua pihak untuk mengoptimalisasi 16 pelabuhan tersebut. Selain itu, Yukki juga menyampaikan harapan dari ALFI agar Pusat Logistik Berikat (PLB) di KTI terus dibuka. Menurutnya, adanya PLB dapat memantik pusat-pusat perdagangan baru sehingga dapat meningkatkan pertumbuhan ekonomi dan menciptakan konektivitas laut.

“Pekerjaan besar lainnya adalah bagaimana kita menciptakan pusat logistik berikat di Indonesia timur agar menciptakan pusat-pusat perdagangan baru,” kata Yukki pada hari Minggu 26 Agustus 2018.

 

Referensi:

  1. Bisnis.com/16 Pelabuhan dibuka di KTI ALFI Berharap Dukungan Pusat Logistik Berikat
  2. Bisnis.com/Catatan ALFI Terkait 16 Pelabuhan di KTI

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *