Peningkatan Produktivitas Muatan Tol Laut Jadi Fokus Kemenhub

Tujuan tol laut adalah menciptakan konektivitas antar wilayah sehingga dapat mengurangi perbedaan harga antara Indonesia Barat dan Indonesia Timur. Kementerian Perhubungan terus mendorong agar produktivitas muatan tol laut terus meningkat. Menhub Budi Karya Sumadi berharap agar tol laut dapat dimanfaatkan untuk memicu pergerakan produk lokal dari timur ke barat.

Budi menyatakan bahwa tol laut merupakan salah satu upaya untuk menekan selisih harga barang Indonesia timur dan barat yang selama ini sangat berbeda jauh. Tol laut diharapkan dapat meningkatkan efisiensi distribusi barang dari barat ke timur dengan waktu yang lebih singkat, metode yang mudah, dan biaya yang murah. Ia juga mengatakan bahwa tol laut juga diharapkan dapat memicu pergerakan ekonomi wilayah Indonesia timur dengan mendorong pergerakan produk lokal dari timur ke barat.

Evaluasi Program Tol Laut

Program tol laut terus dievaluasi selama hampir 4 tahun penyelenggaraannya. Tujuannya adalah agar dapat lebih tepat sasaran untuk mendukung tujuan Indonesia menjadi poros maritim dunia. Paramater yang dievaluasi meliputi kendala sarana-prasarana pendukung di pelabuhan, ketepatan jadwal, konektivitas, biaya-biaya, efektifitas dan efisiensi penggunaan ruang muat kapal, serta efek pelaksanaan program tol laut terhadap perbedaan harga barang kebutuhan pokok dan barang penting.

Capt. Wisnu Handoko, selaku Pelaksana Tugas (Plt) Direktur Lalu Lintas dan Angkutan Laut mengatakan, “Yang jelas, pemerintah terus mengevaluasi dan melakukan sejumlah perbaikan untuk mewujudkan tujuan penyelenggaraan program tol laut, yakni menjangkau dan mendistribusikan logistik ke daerah tertinggal, terpencil, terluar dan perbatasan (T3P), serta menjamin ketersediaan barang dan mengurangi disparitas harga guna meningkatkan kesejahteraan seluruh masyarakat Indonesia”.

Permasalahan Utama

Menurut Menteri Budi, masalah utama pengoperasian tol laut saat ini adalah rendahnya distribusi barang dari wilayah Indonesia bagian timur dan ke bagian barat. Capt. Wisnu pun menyatakan hal yang hampir sama, yaitu masalah yang selalu menjadi sorotan dari tol laut adalah rendahnya tingkat penuhnya muatan kapal yang berangkat dari Kawasan Timur Indonesia (KTI). Padahal menurutnya, pemanfaatan jasa tol laut untuk mengirimkan hasil produksi masyarakat di wilayah KTI ke sentra pemasaran di Pulau Jawa lebih menguntungkan karena dapat mendongkrak produktivitas dan membuka lapangan perkerjaan yang lebih luas dengan biaya angkut yang lebih murah.

Capt. Wisnu menyatakan bahwa untuk menciptakan keseimbangan perdagangan, Direktorat Lalu Lintas dan Angkutan Laut terus mendorong para kepala daerah dan pelaku pasar di wilayah KTI untuk mengirimkan hasil industri serta produk unggulan dari daerah mereka melalui tol laut. Langkah yang diambil oleh DLLAL untuk mencapai hasil tersebut meliputi persiapan mekanisme pemberian diskon biaya angkut untuk muatan balik terhadap lima unit dry container dan lima unit reefer pertama yang dipesan. Selain itu DLLAL juga melakukan pengadaan 40 unit reefer container untuk muatan balik mengangkut ikan.

“Sebanyak 15 trayek pelayaran tol laut bukan saja untuk menekan disparitas harga, kami akan perbanyak kerjasama dengan pemerintah daerah, agar angkutan-angkutan komersial dari timur ke barat juga harus bertambah. Tahun ini kami kampanyekan terus distribusi dari Indonesia timur ke barat itu.” ujar Menteri Budi. Ia juga mengatakan bahwa tol laut dapat menjadi penghidupan atau sumber mata pencaharian masyarakat Indonesia Timur.

Adanya Kompetisi Dalam Memberikan Pelayanan

Budi mengatakan perkembangan tol laut berjalan baik. Hal ini dapat terjadi karena adanya kompetisi dalam memberikan layanan pengangkutan lewat laut antara pihak Pelni dan juga pihak swasta. Hal ini membuat negara bisa memiliki sisa anggaran dengan adanya kompetisi tersebut.

Pemerintah mendapatkan usul untuk memberikan subsidi untuk semua kegiatan container handling dan reposisi di pelabuhan. Hal ini dinilai belum tepat sasaran oleh Capt. Wisnu karena pemerintah masih fokus untuk meratakan akses kapal agar bisa masuk ke daerah T3P. Selain itu, meskipun tidak diberikan tambahan subsidi saat ini tol laut angkutan barat dapat mengoperasikan 19 kapal, melebihi target 15 kapal untuk tahun 2018. Pemerintah bahkan akan menambah 3 kapal feeder sebelum akhir tahun.

Dengan anggaran subsidi 447 Miliar Rupiah, subsidi ini masih terbilang lebih kecil jika dibandingkan dengan subsidi untuk program transportasi yang lain. Pemerintah juga sedang mengkaji kemungkinan untuk pembebasan kapal kontainer, terutama pada kondisi muatan tidak penuh dari Pelabuhan Tanjung Perak ke daerah T3P untuk kontainer kering dan berpendingin kosong melalui subsidi operasi kapal dengan operator PT. Pelni.

Akan Meningkatkan Akses di Pelabuhan

Saat ini, tol laut sudah dapat mengakses 58 pelabuhan, bahkan dalam waktu dekat jalur baru di koridor Sulawesi bagian barat yang selama ini belum dilalui kapal barang linier akan dibuka, ungkap Capt. Wisnu. Biaya logistik dan biaya di pelabuhan yang tinggi dan mahal akan terus diperbaiki dengan peningkatan fasilitas bongkar muat pelabuhan wilayah KTI serta konsolidasi tarif Tenaga Kerja Bongkar Muat (TKBM) secara tripartit, meningkatkan akses jalan menuju pelabuhan dan kapasitas beban trucking container, konektivitas dengan moda udara, penyeberangan, perintis dan pelra.

Baca berita tentang 16 pelabuhan baru: Persemian Pelabuhan Baru di KTI

Capt. Wisnu mengatakan bahwa Ditjen Perhubungan Laut juga terus melakukan sosialisasi dan pembinaan Program Tol Laut secara berkelanjutan kepada Pemda, BUMN, Asosiasi Pelayaran, Operator Penyelenggara Tol Laut, serta pemangku kepentingan terkait. Kegiatan ini dilakukan secara sinergi bersama sama dengan kementerian dan lembaga terkait seperti Kemenko Maritim, Kemendag, Bappenas, dan Badan Nasional Pengelola Perbatasan.

Gubernur DIY, Sri Sultan Hamengku Buwono X mengatakan, laut merupakan sumber daya terbarukan yang jika dimanfaatkan untuk menopang perekonomian bangsa tidak akan ada habisnya. Sri Sultan berpendapat, ketika pelabuhan-pelabuhan sudah saling terhubung melalui jaringan transportasi laut yang terpadu, maka ketimpangan sosial antara masyarakat pesisir dan daratan diharapkan tak ada lagi.

 

Referensi:

  1. SuaraMerdeka.com/Dirjen Hubla Dorong Produktivitas Muatan Tol-Laut
  2. SuaraMerdeka.com/Tujuan Tol-Laut untuk Hidupkan Produktivitas Ekonomi di Indonesia Timur
  3. Maritimenews.id/Kemenhub Dorong Produtivitas Tol-Laut
  4. BeritaSatu.com/Kemhub Dorong Produktivitas Muatan Tol-Laut

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *