CMA CGM: Perang Tarif Antara Washington dan Beijing Belum Mempengaruhi Peak Season Quartal Ketiga 2018

CMA CGM, mendapati sibuknya arus perdagangan antara China dan Amerika Serikat menguntungkan bagi mereka. Sebagai salah satu perusahaan perkapalan kontainer terbesar di dunia, CMA CGM mampu memaksimalkan keuntungan  dari sibuknya arus perdagangan antara China dan Amerika Serikat.

CEO dari CMA CGM, Rodolphe Saade mengatakan bahwa perang tarif antara Washington dan Beijing tidak berpengaruh pada peak season untuk ekspor China ke Amerika Serikat pada kuartal ketiga tahun ini. Hal ini terbukti dari masih kuatnya perdagangan dan ekspor dari China ke Amerika Serikat pada periode ini. Namun, ia juga mengatakan apabila perang ekonomi antara kedua negara dengan kekuatan ekonomi terbesar di dunia tersebut mulai menunjukkan taringnya, maka volume perdagangan antar negara tersebut pasti akan terpengaruh.

Ekonomi Amerika Serikat Kuat

Arus dagang yang sibuk ini didukung karena kuatnya ekonomi Amerika Serikat. Selain itu, tindakan pencegahan dari perusahaan-perusahaan Amerika Serikat dengan melakukan pembelian guna mewaspadai perang tarif yang akan terus berlanjut antara Washington dan Beijing juga memberikan dampak positif pada ramainya arus perdagangan.

CMA CGM Melakukan Akuisisi

Sejak diambil alih dua tahun lalu dari perusahaan kontainer berbasis Singapura, APL, perdagangan transpasifik telah tumbuh menjadi bagian penting dari CMA CGM. APL sendiri merupakan bagian dari konsolidasi pada sektor yang memiliki kapal dengan kelebihan muatan.

Meskipun telah menghentikan minat mereka untuk mengakuisisi perusahan sejenis asal Jerman, Hapag-Llioyd. Saade mengatakan CMA CGM akan terus mencari kesempatan untuk melakukan akuisisi. Ia juga memberikan konfirmasi bahwa CMA CGM sempat tertarik untuk melakukan akuisisi Hapag-Lloyd, namun ketertarikan tersebut sudah berakhir.

Meluncurkan Kapal Baru

“Kuartal ketiga terlihat sangat bagus untuk kami, terutama pada rute transpasifik,” ucap Saade saat acara peluncuran kapal baru mereka. Kapal terbaru mereka diberi nama Antoine de Saint-Exupery, diambil dari nama penerbang legendaris dari Perancis. Kapal baru ini memiliki panjang 400 meter atau 1312 kaki. Kapal ini termasuk dalam generasi kapal raksasa yang dibuat dengan tingkat efisiensi yang jauh lebih baik.

Meskipun diklaim memiliki tingkat efisiensi yang jauh lebih baik, kapal ini sering dianggap sebagai penyebab seringnya terjadi kelebihan muatan pada kapal. CMA CGM berpendapat bahwa kapal raksasa ini dirasa lebih cocok serta lebih tepat untuk digunakan pada rute perdagangan yang sibuk. Tanpa menghiraukan kondisi geopolitik rute tersebut.

Menurut Saade, perang dagang dan perang ekonomi antara Amerika Serikat dan China tidak akan berlangsung selamanya. Hal ini membuat ia yakin perdagangan dunia akan kembali berkembang menjadi lebih baik. CMA CGM yang juga meyakini hal tersebut, mulai melakukan investasi jangka panjang untuk meningkatkan kapasitas kapal mereka. Ini dilakukan dengan harapan orang-orang akan terus membeli barang di China dan Asia, sehingga kapasitas perdagangan akan naik.

Baca Mengenai Perang Dagang: https://maritimindonesia.com/2018/09/07/perang-dagang-china-amerika-perdagangan-menurun/

CMA CGM juga menekankan bahwa kapal terbaru mereka memiliki dampak buruk yang lebih rendah terhadap lingkungan dibandingkan kapal-kapal yang lain. Hal ini disebabkan karena industri perkapalan diberikan batas waktu hingga tahun 2020 untuk menurunkan batas emisi sulfur.

Perkiraan perhitungan biaya untuk CMA CGM melakukan adaptasi pada armada mereka masih terlalu awal dilakukan menurut Saade. Ia merasa beban biaya yang diperlukan untuk melakukan ini terlalu berat untuk ditanggung sendiri oleh perusahaan, sehingga ia berharap pelanggan dapat membantu untuk memikul beban biaya tersebut.

 

Referensi:

  1. gCaptain.com/cma-cgm-sees-brisk-china-u-s-trade-for-now/

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *