Peraturan Terbaru IMO 2020 Tentang Bahan Bakar Kapal

Pada bulan Oktober tahun 2016 yang lalu, Organisasi Maritim Dunia, IMO melalui Marine Environment Protection Committee (MEPC) mengeluarkan peraturan untuk mengurangi ambang batas maksimal emisi sulfur oleh kapal. Peraturan ini telah dikenal sebagai IMO Sulphur Cap 2020. Setelah sebelumnya menerapkan ambang batas maksimal senilai 3,5% m/m (mass by mass) pada tahun 2005 melalui International Convention for the Prevention of Pollution from Ships atau dikenal sebagai Annex VI MARPOL Convention, peraturan tersebut kini telah diperbarui. Ambang batas maksimal emisi sulfur dari kapal mengalami pemotongan yang sangat besar. Dari 3,5% m/m, peraturan baru mengatur bahwa nilai maksimalnya adalah 0,5% m/m.

Peraturan ini diberi nama IMO 2020 Fuel Sulphur Regulation. Peraturan ini diberlakukan untuk memberikan batasan emisi sulfur oleh bahan bakar kapal yang beroperasi diluar area kendali emisi sulfur (Sulphur Emission Control Area atau ECA-SOx). Sebelum peraturan ini muncul, IMO sudah menerapkan peraturan yang lebih ketat mengenai emisi sulfur di beberapa lokasi. Lokasi tersebut adalah wilayah Laut Baltik, Laut Utara, Laut Amerika Utara, dan Laut Karibia Amerika Serikat. Nilai batasan yang diterapkan untuk keempat wilayah tersebut bahkan lebih kecil dari 0,5% m/m yaitu hanya senilai 0,10% m/m. Penyedia minyak bahan bakar kapal sudah mampu menyediakan supply bahan bakar yang mampu mematuhi batasan emisi tersebut. Bahan bakar tersebut yaitu Ultra Low Sulphur Oil Blends bagi kapal yang melakukan perdagangan di wilayah tersebut.

IMO Sulphur Cap 2020 Mulai diberlakukan 1 Januari 2020

IMO 2020 Fuel Sulphur Regulation sendiri akan mulai resmi diberlakukan pada tanggal 1 Januari tahun 2020. Alasan utama kenapa IMO mengeluarkan peraturan ini adalah emisi sulfur yang tinggi dari bahan bakar kapal yang saat ini digunakan. Saat ini, bahan bakar kapal menggunakan bahan bakar minyak berat yang merupakan residu turunan dari distilasi minyak mentah. Minyak mentah memiliki kandungan sulfur yang apabila dibakar dalam mesin akan menghasilkan emisi sulfur. Oksida Sulfur (SOx) merupakan unsur yang berbahaya bagi kesehatan manusia karena dapat menyebabkan gangguan pernafasan dan penyakit paru-paru. Jika oksida sulfur mencapai atmosfir, maka dapat meyebabkan terjadinya hujan asam yang merusak tanaman pertanian, hutan, spesies perairan hingga meyebabkan pengasaman lautan.

Oleh karena itu IMO, mengeluarkan peraturan yang mengatur ambang batas maksimal emisi sulfur pada tahun 2016 yang lalu. IMO memberi waktu selama lebih dari 3 tahun untuk para pihak yang bergerak dalam bisnis shipping dan penyedia bahan bakar untuk mempersiapkan diri agar dapat mematuhi peraturan tersebut setelah mulai berlaku pada tanggal 1 Januari 2020. Dengan membatasi emisi sulfur, IMO berharap untuk dapat melindungi lingkungan serta meningkatkan kualitas udara secara global.

Pihak-pihak yang terkena pengaruh dari peraturan baru IMO Sulphur Cap 2020 tersebut adalah seluruh kapal yang beroperasi di lautan mulai tanggal 1 Januari 2020. Selain itu, produsen dan supplier bahan bakar untuk kapal juga secara tidak langsung terkena dampak peraturan ini. Mereka harus mulai mengembangkan jenis bahan bakar baru yang memiliki kandungan sulfur dibawah batas maksimal agar bahan bakar produksi mereka dapat laku dipasaran.

Produsen Perlu Melakukan Riset Untuk Menghadapi IMO Sulphur Cap 2020

Para produsen perlu melakukan riset untuk membuat bahan bakar baru. Hal ini dilakukan agar sebelum batas 1 Januari 2020, mereka sudah mampu memproduksi secara massal bahan bakar tersebut. Salah satu cara yang dapat dilakukan adalah dengan mencampur bahan bakar yang memiliki kandungan sulfur tinggi dengan bahan bakar yang memiliki kandungan sulfur yang rendah. Sehingga tercapai bahan bakar dengan kandungan sulfur yang sesuai peraturan.

Bagi pihak operator kapal, mereka dapat memasang sistem pembersih gas buang, atau biasa disebut ‘scrubbers’. Pemasangan sistem ini telah disetujui oleh negara asal kapal sebagai cara alternatif untuk mengurangi emisi sulfur mereka. ‘Scrubbers’ ini didesain untuk menyingkirkan oksida sulfur dari gas buang mesin dan boiler kapal. Selain itu, pihak operator kapal dapat memilih untuk mengganti bahan bakar mereka seluruhnya menggunakan liquefied natural gas atau LNG, atau bahkan biofuels. Namun, untuk mengganti bahan bakar mereka dengan bahan bakar yang telah memenuhi batas emisi 0,10% m/m yang digunakan di wilayah ECA-SOx membutuhkan biaya yang jauh lebih mahal daripada menggunakan campuran bahan bakar atau memasang ‘scrubbers’.

Produsen Mampu Memproduksi

Sebuah studi yang dibiayai oleh IMO mengenai “Assessment of fuel oil availability” mencapai kesimpulan bahwa sektor kilang minyak mampu untuk memproduksi bahan bakar dengan kandungan sulfur dibawah 0,50% m/m. Selain itu studi ini juga menyatakan bahwa sektor produsen mampu memenuhi supply bahan bakar yang dibutuhkan. Saat ini, IMO sedang mendiskusikan cara untuk mengidentifikasi potensi masalah keselamatan terkait campuran baru bahan bakar karena apabila bahan bakar tersebut tidak dikelola secara benar dapat menimbulkan masalah stabilitas dan kompatibilitas.

IMO menyerahkan tugas pengawasan, pemenuhan, dan penegakkan peraturan ambang batas yang baru kepada pemerintah dan otoritas negara dari negara anggota MARPOL Annex VI. Selain itu, pihak pelabuhan juga memiliki hak dan tanggung jawab untuk menegakkan pemenuhan peraturan tersebut. IMO juga bekerja sama dengan negara anggota serta industri terkait untuk mengidentifikasi dan memitigasi masalah yang terjadi selama masa transisi.

K Line Menyetujui Peraturan Baru IMO Sulphur Cap 2020

Kawasaki Kisen Kaisha (K Line), perusahaan shipping asal Jepang menyetujui peraturan baru tersebut. K Line pun telah bersiap untuk mematuhi peraturan tersebut dengan mengadopsi berbagai langkah. Beberapa langkah yang diadopsi adalah pemasangan ‘scrubber’ dan penggunakan retofit LNG serta bahan bakar rendah sulfur.

Eizo Murakami selaku presiden perusahaan sekaligus CEO dari K Line mengatakan, “Menerapkan langkah ramah lingkungan akan memerlukan biaya yang besar, namun penting untuk mengambil tindakan tanpa menunda dengan cara membagikan beban yang ada secara adil kepada penerima keuntungan.” Ia juga mengatakan bahwa K Line akan memulai tindakan untuk memenuhi peraturan tersebut dari satu kapal ke kapal yang lain. K Line tidak akan berhenti hanya pada satu langkah untuk mematuhi peraturan batas emisi tersebut.

 

Referensi:

  1. http://www.imo.org/en/mediacentre/hottopics/pages/sulphur-2020.aspx
  2. https://www.lr.org/en/insights/articles/what-you-need-to-know-about-the-imo-2020-fuel-sulphur-regulation/
  3. https://worldmaritimenews.com/archives/261093/k-line-we-will-not-limit-ourselves-to-one-2020-sulphur-cap-measure/

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *