IMO Tegaskan Peraturan Emisi Sulfur 2020 Tidak Akan Ditunda

Edmund Hughes, Kepala Bidang Polusi Udara dan Efisiensi Energi dari Divisi Lingkungan Kelautan IMO mengatakan bahwa tanggal pelaksanaan peraturan baru tentang emisi sulfur 2020 tidak akan diundur. Meskipun dianggap kontroversial, namun peraturan yang mengatur tentang bahan bakar kapal ini diyakini akan diberlakukan sesuai jadwal. Hughes yakin mayoritas pemilik kapal di dunia akan mematuhi peraturan ini.

Peraturan yang mewajibkan kapal untuk mengurangi emisi sulfur 2020 mereka hingga maksimal 0,50% ini akan diberlakukan mulai 1 Januari 2020. Peraturan ini diperkirakan akan memengaruhi banyak hal, mulai dari harga minyak dunia hingga perdagangan global. Meskipun demikian, IMO tetap kukuh pada pendirian mereka untuk menjalankannya mulai 1 Januari 2020.

Edmund Hughes mengatakan, memberikan keyakinan pada orang-orang akan pelaksanaan peraturan yang tidak akan ditunda merupakan hal yang penting. Ia yakin bahwa peningkatan kualitas bahan bakar industri shipping akan berhasil. Keyakinan ini datang setelah melihat usaha dari pihak kilang minyak maupun industri shipping untuk bersiap selama setahun terakhir.

Penundaan sekecil apapun dapat merusak reputasi dan kredibilitas IMO sebagai badan pembentuk peraturan. Hal ini disampaikan oleh Hughes saat diwawancarai pada cara Konferensi Petroleum Asia Pasifik. Penundaan juga dapat menyebabkan ketidakpastian yang besar bagi seluruh bidang.

Peraturan Emisi Sulfur 2020 Untuk Mengurangi Polusi Udara

Berdasarkan data dari PBB, 80% perdagangan dunia dilakukan di laut. Perubahan peraturan dari IMO ini dirancang untuk mengurangi polusi udara dari kapal laut. Polusi udara tersebut telah banyak dikaitkan dengan berbagai masalah kesehatan seperti asma dan bahaya lingkungan seperti hujan asam.

Kelompok dagang shipping bersama dengan 4 negara yang memiliki ribuan kapal terdaftar mengusulkan agar pelaksanaan peraturan ini dilakukan secara bertahap. Selain karena peraturan emisi sulfur 2020 ini menyebabkan harga bahan bakar yang memenuhi aturan ini meningkat tajam, mereka juga mempertimbangkan masalah keamanan dan keselamatan. Ditakutkan bahwa peraturan ini dapat membebani industri kilang minyak serta bahan bakar yang tidak sesuai dengan mesin dapat menyebabkan kecelakaan.

Tingkat Kepatuhan yang Tinggi

Dengan luasnya keanggotaan IMO dan banyaknya negara yang telah menandatangani peraturan ini, Hughes memperkirakan tingkat kepatuhan dapat mencapai 96%. Pasalnya, mayoritas pemilik kapaldagang dunia telah menyetujui peraturan ini. Kedepannya, kapal yang diketahui melanggar peraturan ini akan dikenai inspeksi berulang hingga mereka bersedia patuh terhadap peraturan yang baru.

Rencananya, pada bulan Maret 2020, akan dikeluarkan larangan bagi kapal yang menggunakan bahan bakar yang tidak sesuai dengan peraturan. Hughes menganggap hal ini dapat meringankan beban pemerintah untuk menghukum kapal yang melakukan kecurangan.

Penegakkan peraturan ini akan menjadi tanggung jawab negara asal kapal. Namun setelah larangan bahan bakar diperlakukan, tugas penegakkan peraturan akan diambil alih oleh negara pelabuhan.

Hughes tidak dapat menjamin tingkat kepatuhan 100%. Ia menegaskan bahwa penting untuk menjelaskan kepada sektor shipping maupun negara pelabuhan untuk memahami bahwa menaati peraturan ini bukanlah pilihan, melakinkan suatu kewajiban yang harus dilaksanakan.

 

Referensi:

  1. https://gcaptain.com/no-delay-no-cheating-the-imo-gets-tough-on-2020-global-sulphur-cap/

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *