Forum Komunikasi Tiga Negara Pantai Selat Malaka

Pada hari Senin, 24 September 2018 yang lalu, tiga negara pantai Selat Malaka melaksanakan pertemuan. Diberi tajuk “11th Co-Operation Forum Singapore”, acara ini diadakan di Negara Singapura. Forum ini pertama kali diadakan pada tahun 2007, atau 11 tahun yang lalu. Tiga negara pantai Selat Malaka tersebut adalah Indonesia, Singapura, dan Malaysia.

Co-Operation Forum adalah salah satu pilar dari Mekanisme Kerjasama mengenai Keselamatan Pelayaran dan Perlindungan Lingkungan Maritim di Selat Malaka dan Selat Singapura. Agus H. Purnomo, selaku Dirjen Hubla mengatakan bahwa telah banyak proyek kerja sama yang telah dilakukan sejak dibentuknya forum ini pada tahun 2007 yang lalu.

Sebelum “11th Co-Operation Forum Singapore” diadakan, telah terlebih dahulu diadakan pertemuan Aids to Navigation Fund (ANF) ke-21. Selain itu, juga diadakan Tripartite Technical Expert Group (TTEG) dan Project Coordination Committee (PCC) ke-11. Pada acara TTEG, Indonesia mendorong pembentukan Pemanduan Luar Biasa agar dilakukan oleh operator-operator dari ketiga negara. Tujuannya adalah untuk mengatasi isu Voluntary Pilotage Services in Straits of Malacca and Singapore. Indonesia telah menyelesaikan Draft SN Circular untuk disampaikan kepada IMO agar proposal pembentukan Pemanduan Luar Biasa dapat disetujui.

Fungsi Co-Operation Forum Tiga Negara Pantai Selat Malaka

Forum kerja sama ini merupakan wadah bagi industri pelayaran, pemangku kepentingan terkait, serta negara pengguna jasa di wilayah Selat Malaka dan Selat Singapura (SOMS) untuk membahas isu terkait di wilayah tersebut. Isu-isu utama yang dibahas adalah isu keselamatan pelayaran dan perlindungan maritim. Selain ketiga negara pantai tersebut, acara ini dihadiri oleh delegasi dari negara pengguna. Negara pengguna tersebut antara lain adalah Jepang, Korea Selatan, Yunani, Nigeria, Selandia Baru, Vietnam, dan Denmark. Selain itu, terdapat delegasi dari organisasi internasional terkait seperti IALA, Malacca Strait Council (MSC), dan EMSA.

Selain sebagai wadah diskusi bagi pihak terkait, forum komunikasi tiga negara pantai selat malaka ini juga dibentuk untuk mendorong dialog dan tukar pandangan mengenai isu-isu di SOMS. Selain itu, forum ini juga bertujuan untuk menampung masukan dari pengguna SOMS secara rutin. Forum ini juga memfasilitasi kerja sama antara pihak-pihak terkait SOMS. Pihak tersebut antara lain adalah negara pantai, negara pengguna, industri pelayaran dan stakholder terkait. Kerja sama tersebut berfokus pada bidang keselamatan pelayaran dan perlindungan maritim di wilayah SOMS.

Forum kerja sama ini dibuka dengan memutar video perjalanan 10 tahun mekanisme kerjasama yang telah dilakukan. Kerja sama utama dalam 10 tahun ini adalah kerja sama dalam bidang keselamatan pelayaran dan perlindungan lingkungan maritim di SOMS. Setelah pemutaran film, acara ini dilanjutkan dengan sambutan dari Menteri Koordinator Infrastruktur dan Menteri Perhubungan Singapura, Mr. Khaw Boon Wan.

Dalam forum ini, ketiga pimpinan delegasi negara pantai melakukan pertemuan informal. Pertemuan informal ini membahas isu terkait di wilayah SOMS. Hasilnya, ketiga pimpinan delegasi menyepakati untuk melihat kembali proyek Marine Environment Highway (MEH) yang telah dilakukan sejak 2014.

Peran Indonesia 

Indonesia memiliki peran yang cukup penting dalam pelaksanaan proyek MEH. Hal ini karena Indonesia memiliki Data Center MEH yang terletak di Batam. Ini merupakan bukti bahwa Indonesia ikut memelihara dan mendukung peningkatan ke fase berikutnya.

Selain di MEH, Indonesia juga terlibat secara langsung dalam kegiatan pemanduan di wilayah SOMS. Indonesia melalui PT Pelindo 1 telah memberikan pemanduan kepada kapal-kapal yang melalui SOMS sejak Maret 2017 yang lalu.

Tak berhenti disitu, Indonesia juga memperkenalkan inisiatif untuk membuat SOMS lebih aman dan bersih. Saran tersebut berupa pemeliharaan dan penggantian sarana bantu navigasi pelayaran (SBNP) dan studi tentang cetak biru keselamatan navigasi dan perlindungan lingkungan maritim.

Kutipan Dirjen Hubla

Agus H.Purnomo, selaku Direktur Jenderal Perhubungan Laut sekaligus ketua delegasi Republik Indonesia mengatakan, “Implementasi Marine Electronic Highway oleh negara pantai sebagai embrio E-Navigasi, perbaikan berkelanjutan atas fasilitas di masing-masing daerah engara pantai, dan berbagai inisiatif lainnya terkait perlindungan lingkungan laut, menunjukkan bahwa negara pantai, dukungan dari para pemangku kepentingan, bekerja bersama untuk memastikan perjalanan yang aman bagi kapal, dan di sisi lainnya memberikan perhatian bagi perlindungan lingkungan maritim. Isu-isu tentang respon polusi dan kesiapsiagaan, pendekatan praktis, Gas Rumah Kaca (GRK) dan pelayaran berkelanjutan, juga menjadi perhatian Indonesia.”

Agus juga mengatakan bahwa komitmen Indonesia terhadap isu kemaritiman sangat tinggi. Terutama komitmen pada isu keselamatan pelayaran dan perlindungan lingkungan maritim di SOMS. Indonesia juga berkomitmen untuk bekerja sama dengan memperkenalkan beberapa inisiatif. Salah satu inisiatif tersebut adalah SBNP dan studi cetak biru keselamatan navigasi dan perlindungan lingkungan maritim.

 

Referensi:

  1. http://hubla.dephub.go.id/berita/Pages/TIGA-NEGARA-PANTAI-BAHAS-KESELAMATAN-PELAYARAN-DAN-PERLINDUNGAN-LINGKUNGAN-MARITIM-DI-SELAT-MALAKA-DAN-SINGAPURA.aspx
  2. http://oceanweek.co.id/tiga-negara-bahas-keselamatan-pelayaran-selat-malaka/
  3. http://industri.bisnis.com/read/20180924/98/841665/3-negara-pantai-bertemu-bahas-keselamatan-pelayaran-selat-malaka

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *