Review of Maritime Transport – Data Armada Kapal Dunia

Setelah 5 tahun mengalami penurunan pertumbuhan, ekspansi kapal dunia akhirnya mengalami peningkatan pada tahun 2017. Total 42 juta gross ton ditambahkan pada tonase global tahun 2017. Nilai ini setara dengan pertumbuhan 3,3%. Hal ini dapat diraih salah satunya karena negara seperti Kanada, China, dan Yunani meningkatkan jumlah kapal mereka. Peningkatan tonase terbesar dialami sektor dry bulk dengan nilai lebih dari 20 juta gross ton.

Perlu diketahui, 90% kegiatan pembuatan kapal dilakukan di China, Korea, dan Jepang. Sedangkan untuk pembongkaran kapal paling banyak dilakukan di India, Bangladesh, dan Pakistan.

Deadweight tonnage (dwt) dari kapal komersial tumbuh 3,31% dalam rentang 1 Januari 2017 hingga 1 Januari 2018. Menurut data dari UCNTAD, kapal pengangkut gas mencatatkan pertumbuhan terbesarnya pada tahun 2017, mencapai 7,2%. Kapal kontainer terbesar saat ini digunakan untuk melayani rute jarak jauh untuk menghubungkan trans-shipment hubs. Kapasitas masing-masing kapal tersebut mencapai 21.400 TEUs.

Kepemilikan kapal

Yunani menambah jumlah kapal mereka hingga 17,3% dari jumlah sebelumnya. Kapasitasnya turut meningkat sekitar 21 juta dwt di tahun 2017. Selain Yunani, negara lain seperti Jepang, China, dan Jerman turut meningkatkan jumlah kapal mereka. Nilai peningkatannya adalah 11,7%, 9,6%, dan 5,6% secara berurutan. China masih memegang predikat negara dengan jumlah armada kapal terbanyak, namun bukan berarti jumlah kapasitas terbesar dipegang oleh China. Sedangkan untuk predikat scrapper terbesar dipegang oleh India, dan diikuti oleh Bangladesh dan Pakistan.

Pertumbuhan armada kapal dunia

Setelah mengalami penuruan tajam di tahun 2001, perdagangan melalui laut mengalami kenaikan stabil. Namun setelah tahun 2006, nilai kenaikan tersebut terus menurun hingga pada tahun 2009 mencapai titik terbawah, mencapai lebih dari minus 4%. Pada tahun 2010 pertumbuhan kembali menunjukkan trend positif dengan nilai mencapai +6% dan semenjak saat itu terjadi peningkatan dengan nilai kurang lebih 4% selama 4 tahun. Meskipun pada tahun 2015 nilai pertumbuhan turun menjadi 2%, di tahun 2016 dan 2017 pertumbuhan kembali meningkat di angka 3% dan 4%.

Berbeda dengan pertumbuhan ekonomi dunia, pertumbuhan armada kapal dunia selalu mengalami kenaikan. Pada tahun 2000-2003 nilai kenaikannya berkisar 1%-2% per tahunnya. Namun, mulai tahun 2004 nilai kenaikannya mencapai 4%. Bahkan pada tahun 2005 dan 2006 kenaikan tercatat mencapai 7% dan 8%. Meskipun trend perdagangan laut mengalami menurunan peningkatan dari 8% menjadi hanya 4% pada 2007 dan 2008, pertumbuhan armada kapal dunia tetap naik lebih dari 6%. Bahkan saat nilai pertumbuhan perdagangan mencapai minus 4% di tahun 2009, pertumbuhan kapal dunia justru tumbuh 7%.

Saat ekonomi dunia mulai bangkit pada tahun 2010, pertumbuhan kapal kembali meningkat. Nilainya mencapai 9%, bahkan pada 2011 nilai pertumbuhan armada kapal mencapai 10%. Meskipun demikian, mulai tahun 2012 hingga 2018 nilai pertumbuhan kapal selalu menurun. Dari 6% pada 2012 dan terus turun menjadi sekitar 3% dan 4% per tahunnya.

Pembagian jenis kapal terhadap nilai dwt kapal dunia

Pada tahun 1980, hampir 50% kapal kargo merupakan kapal tanker minyak. Namun semakin hari, jumlah kapal tanker berkurang. Hingga pada tahun 2018, jumlah kapal kargo yang berupa kapal tanker minyak hanya sekitar 29% dari seluruh kapal yang digunakan.

Hal ini berbeda dengan kapal pengangkut komoditas dry bulk. Kapal jenis ini selalu mengalami peningkatan jumlah. Hanya berjumlah 27% pada tahun 1980, kini di tahun 2018 jumlah kapal ini mencapai 42,5% dari seluruh kapal dunia.

Hal ini menunjukkan terjadinya pergeseran perdagangan internasional. Dimana pada tahun 1980an perdagangan berfokus pada jual beli minyak bumi, kini perdagangan internasional beralih ke jual beli komoditas dry bulk.

Selain itu, terjadi perubahan terhadap nilai dwt pada periode tahun 2017 dan 2018. Berdasarkan data dari UNCTAD, hampir semua jenis kapal tercata mengalami peningkatan jumlah dwt. Hanya sektor general cargo ships yang mengalami penurunan nilai dwt.

Meskipun tahun 2018 mencatat persentase dwt dry bulk mencapai 42,5% namun nilai uang dari sektor tersebut hanya 22,2% dari nilai keuangan seluruh aktivitas perdagangan melalui laut dunia. Berbeda dengan offshore carrier dan kapal ferry. Meskipun nilai mereka masing-masing hanya 4,1% dan 0,3% tetapi nilai keuangan mereka mencapai 19,6% dan 11,4%. Ini merupakan rasido dwt dan keuangan yang paling baik.

Rerata umur kapal

Setiap tahun, rerata umur kapal akan selalu meningkat. Namun apabila hanya dilihat dari nilai dwt yang signifikan, nilai rerata umur akan jauh lebih rendah dibandingkan dengan rerata umur seluruh kapal. Hal ini disebabkan karena kapal-kapal yang dibangun pada beberapa dekade sebelumnya dan saat ini masih beroperasi memiliki kapasitas dwt yang kecil jika dibandingkan dengan kapal baru.

Contoh nyata adalah kapal tanker. Persentase kapal tanker dengan umur diatas 20 tahun mencapai 37% dari seluruh kapal tanker yang ada. Namun persentase dwt dari kapal tanker diatas 20 tahun tersebut hanya 5,55%. Sedangkan kapal tanker dengan usia 0-4 tahun yang hanya berjumlah 14,97% dari seluruh kapal tanker memiliki persentase dwt diatas 21%. Meskipun jumlahnya hanya setengah dari kapal diatas 20 tahun, namun nilai dwt mereka mencapai hampir 4 kali lipat dari kapal tua tersebut.

Data tersebut menunjukkan bahwa pada proses pembuatan kapal, selalu diupayakan untuk meningkatkan kapasitas kapal. Hal ini tercermin dari kapal yang lebih muda memiliki kapasitas dwt yang lebih besar.

Data dari UNCTAD juga menunjukkan bahwa dari 2004 hingga 2018, ukuran maksimum kapal serta nilai kapasitas TEUs selalu mengalami peningkatan. Berbeda dengan jumlah kapal yang memiliki trend mendatar cenderung menurun dan trend jumlah perusahaan liner yang selalu menurun.

Kapal kontainer dengan kapasitas terbesar di dunia saat ini digunakan untuk melayani rute Far East – Northern Europe. Tercatat 18 pelayanan perminggu pada Juni 2018. Sebelumnya, rute ini dilayani sebanyak 32 kali perminggu pada tahun 2008. Meskipun jumlah pelayanan perminggunya menurun, aktivitas perdagagan tidak menurun. Hal ini disebabkan karena ukuran kapal yang digunakan pada tahun 2008 jauh lebih kecil dibandingkan dengan tahun 2018. Sehingga diperlukan jumlah pelayanan yang lebih banyak.

Data kepemilikan kapal serta nilai transaksinya

Saat ini, China memegang predikat negara dengan jumlah armada kapal komersia terbanyak. Negara tersebut tercatat memiliki 5.512 kapal komersial dengan kapasitas tiap kapal diatas 1000 GT. Dengan jumlah kapal sebanyak itu, tidak serta merta menjadikan China sebagai negara dengan kapasitas dwt terbesar. Bahkan nilai transaksional mereka pun juga bukan merupakan yang terbesar.

Jepang bersaing ketat dengan Yunani dalam nilai transaksi dry bulk commodities. Sedangkan untuk oil tanker saat ini dipegang oleh Yunani. Container ship dikuasai oleh Jerman, dan transaksi menggunakan kapal lain seperti kapal ferry, offshore carrier, serta general cargo dipimpin oleh Amerika Serikat.

Untuk kapasitas kapal kontainer berdasarkan satuan TEUs, Jerman memimpin market share dengan nilai 20,22%. Nilai tersebut bila dikonversikan ke satuan TEUs menjadi sekitar 4.207.388 TEUs.

Di bawah ini tersaji data kapasitas berdasarkan TEUs serta nilai market share beberapa negara dan perusahaan liner di dunia.

Di beberapa negara kepulauan kecil yang sedang berkembang dan negara ekonomi lemah, jumlah operator kapal dan ukuran maksimum kapal mengalami penurunan pada tahun 2018.

Penurunan ini dapat menyebabkan meningkatnya biaya transportasi barang komoditas. Hal ini dapat secara langsung mempengaruhi harga barang di wilayah tersebut.

Indeks konektivitas Liner Shipping

Indeks konektivitas Liner Shipping yang diterbitkan oleh UNCTAD merupakan indikator posisi negara dalam jaringan global Liner Shipping. Semakin tinggi nilai indeks, maka biaya angkut dan tingkat perdagangan akan semakin kompetitif.  Saat ini, China masih memegang nilai indeks terbesar di angka 187,8 dan disusul Singapura di 133,9. Sedangkan negara dengan index terendah adalah Norfolk Island dengan nilai index 0,6 disusul oleh Christmas Island dengan nilai 0,9.

Nilai indeks konektivitas Liner Shipping dapat dilihat pada tabel diatas.

Registrasi kapal

Setiap kapal komersil harus terdaftar untuk mendapat ijin beroperasi. Kebanyakan kapal komersi terdaftar denga bendera negara yang berbeda dari negara pemilik kapal. Tiga negara dengan kapal terdaftar terbanyak bukanlah merupakan negara yang memiliki banyak kapal. Ketiga negara tersebut adalah Panama, Marshall Island, serta Liberia.

Selain itu, UNCTAD juga mengeluarkan data pembanding mengenai nilai transaksi kapal berdasarkan jenis kargo dan wilayah dimana kapal tersebut terdaftar. Tak hanya itu, UNCTAD juga merilis data persebaran kapasitas dwt kapal berdasarkan jenis dan kelompok negara dimana kapal tersebut terdaftar.

Pembuatan kapal, pembongkaran kapal, pemesanan kapal baru

Tahun 2017, terdapat kapasitas 65 juta GT kapal baru yang dikirimkan. Namun di tahun yang sama, terdapat kapasitas 23 juta GT kapal yang dibongkar. Hal ini menjadikan total pertumbuhan kapasitas armada kapal hanya 42 juta GT.

Mayoritas kapal baru merupakan kapal kontainer untuk kargo jenis dry bulk. Total kapasitas tambahan yang diterima sektor tersebut mencapai 20 juta GT. Namun sektor ini juga mengalami nilai pembongkaran kapal terbesar, yaitu 8 juta GT.

Dibandingkan dengan tahun 2016, nilai pembongkaran kapal di tahun 2017 ini lebih rendah. Hal ini menunjukkan meningkatnya optimisme pasar.

Nilai tonase pada pesanan kapal menurun antara tahun 2017 dan 2018. Apabila dibandingkan dengan puncaknya di tahun 2008 dan 2009, penurunan tonase per pesanan melebihi 60%. Untuk kapal kontainer turun 62%, kapal tanker minyak turun 66%, dry bulk carrier turun 76% dan general cargo turun 85%.

 

Referensi:

  1. https://unctad.org/en/PublicationsLibrary/rmt2018_en.pdf

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *