Review of Maritime Transport – Perkembangan Teknologi Dalam Industri Shipping

Semakin banyak kapal dan pelabuhan yang merubah serta melakukan revolusi kegiatan operasi shipping mereka. Hal ini dikarekana perkembangan teknologi yang saat ini telah menjadi elemen penting bagi kapal dan pelabuhan. Perkembangan teknologi seperti Autonomous Ships, Drones, dan teknologi distribusi ledger seperti Blockchain menjanjikan peningkatan efisiensi operasi dan pengurangan biaya operasional.

Namun, masih terdapat ketidakjelasan dalam industri maritim. Ketidakjelasan tersebut terutama terdapat pada sektor safety and security. Selain physical security, juga terdapat ancaman pada sektor cybersecurity. Oleh karena itu, pemerintah dan industri maritim dunia selalu berusaha meningkatkan budaya safety dan manajemen risiko. Selain itu, mereka juga berusaha untuk memastikan kepatuhan terhadap sistem hukum dan peraturan yang berlaku.

Cybersecurity

“Review of Maritime Transport 2017” yang dirilis oleh UNCTAD telah menekankan contoh serangan cyber dan kelemahan sistem navigasi serta sistem lain baik pada kapal maupun di pelabuhan. Beberapa kelemahan tersebut adalah gangguan pada sistem identifikasi otomatis dan tampilan grafik dan sistem informasi elektronik. Gangguan pada GPS hingga manipulasi sistem kargo dan sistem lain pada kapal dan pelabuhan juga menjadi kelemahan sistem yang sudah ada. Selain itu, ancaman dari virus komputer serta malware dan ransomware juga menjadi masalah yang serius.

UCNTAD akhirnya memberikan panduan keamanan cyber untuk industri maritim dalam “Review of Maritime Transport 2018”. Dalam panduan tersebut, terdapat 5 elemen fungsional untuk melakukan manajemen risiko yang efektif dalam sektor maritim. Kelima elemen tersebut adalah identify, protect, detect, respond, dan recover.

Menurut UNCTAD, kelima elemen tersebut harus dimasukkan kedalam seluruh aspek operasi dan manajemen personil perusahaan shipping. Kelima elemen tersebut harus dibiasakan hingga menjadi budaya, sama halnya dengan budaya keselamatan (safety culture).

Selain itu, terdapat panduan industri maritim dalam manajemen risiko cyber. Panduan tersebut menyatakan bahwa pihak manajemen wajib:

  1. Mengidentifikasi peran dan tanggung jawab dari user, key personnel, serta manajemen baik di kapal maupun di pelabuhan;
  2. Mengidentifikasi sistem, aset, data, dan kemampuan, yang jika terganggu dapat memberikan paparan risiko terhadap kegiatan operasional dan safety kapal;
  3. Mengimplementasikan tindakan teknis untuk melindungi dari insiden cyber dan memastikan kelanjutan operasi. Termasuk melakukan konfigurasi jaringan, kontrol akses terhadap jaringan dan sistem, perlindungan batasan dan komunikasi serta penggunaan software proteksi dan deteksi;
  4. Mengimplementasikan rencana dan kegiatan (tindakan proteksi prosedural) untuk memastikan kekokohan terhadap insiden cyber. Termasuk mengadakan pelatihan, pemeliharaan software, remote and local access, access privileges, penggunaan media yang dapat dipindahkan hingga melakukan pemusnahan peralatan;
  5. Mengimplementasikan kegiatan untuk mempersiapkan diri serta merespon insiden cyber.
Internet Of Things

IoT adalah jaringan dari peralatan dengan identifikasi unik dalam bentuk IP Address. Peralatan tersebut telah dilengkapi dengan teknologi untuk merasakan data, mengumpulkan data, dan berkomunikasi tentang lingkungan dimana peralatan tersebut berada.

Sektor shipping semakin banyak mengambil data dari informasi satelit dan peralatan penghubung sensor, sistem dan peralatan untuk mendukung pengambilan keputusan terkasi optimasi rute hingga pelacakan dan perawatan aset. Dalam industri ini, penggunaan IoT meningkat tajam. Tujuan dari penggunaan IoT adalah untuk meningkatkan konektivitas ship-to-shore serta untuk melakukan intelligent traffic management.

Selain itu, IoT juga digunakan untuk mengembangkan sistem yang mendukung navigasi pada kondisi yang menantang. Contohnya adalah kondisi cuaca yang buruk atau perairan yang penuh.

Penggunaan Blockchain

Blockchain adalah teknologi distribusi ledger yang mengijinkan transaksi peer-to-peer yang tercatat dengan aman seperti dalam ledger. Selain itu, blockchain mampu mencatat transaksi lintas organisasi maupun individu tanpa perantara di beberapa tempat sekaligus.

Blockchain memiliki potensi untuk meningkatkan keamanan lingkungan IoT. Blockchain juga memberikan solusi untuk beberapa aspek keamanan informasi seperti kerahasiaan, integritas, ketersediaan serta non-repudiation.

Beberapa fitur dari blockchain adalah sebagai berikut:

  1. Melindungi keamanan dokumen dengan memblokir pencurian identitas, melalui penggunaan public key cryptography;
  2. Mencegah perusakan data, dibandingkan dengan penandatanganan dokumen dan bentuk lain dari pertukaran data elektronik, melalui oembuatan public key dan private key;
  3. Menghentikan penolakan serangan layanan, dengan cara menyingkirkan target yang mungkin akan diserang oleh hacker untuk menghancurkan sistem seluruhnya.

Di industri maritim, blockchain memiliki potensi untuk digunakan sebagai pelacak kargo dan memberikan visibilitas jaringan supply end-to-end; mencatat informasi kapal, termasuk paparan risiko global; mengintegrasikan smart contract dan kebijakan asuransi kelautan; serta melakukan digitalisasi dan otomasi pengiriman kertas dan dokumen. Aplikasi tersebut dapat membantu untuk mengurangi waktu yang dibutuhkan dan mengurangi biaya terkait pergerakan kargo.

Autonomous Ships And Drones

Seperti dengan teknologi autonomous di industri lain, autonomous ships juga memiliki potensi untuk menyediakan peningkatan safety dan penghematan biaya. Potensi tersebut diwujudkan dalam bentuk menghilangkan keterlibatan manusia dari beberapa operasi tertentu.

Saat ini, penggunaan autonomous ships lebih condong ke penelitian serta sektor pertahanan. Namun autonomous ships memiliki potensi untuk digunakan dalam banyak hal. Diantaranya adalah penyelamatan kapal karam, respon tumpahan minyak di laut, penyeberangan penumpang, offshore supply, hingga menarik kapal kargo.

 

Untuk informasi lebih lanjut mengenai masalah peraturan kapal autonomous, perkembangan peraturan terkait transportasi maritim dan emisi gas rumah kaca serta masalah lingkungan lainnya dapat ditemukan dalam bab 5 “Review of Maritime Transport 2018” yang dirilis oleh UNCTAD.

 

Referensi:

https://unctad.org/en/PublicationsLibrary/rmt2018_en.pdf

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *