Setahun Beroperasi, ONE Rugi 600 Juta USD

Ocean Network Express (ONE), jaringan kapal kontainer Jepang, mengalami kerugian hingga 600 juta Dolar Amerika pada tahun pertama mereka beroperasi. Perkiraan ini muncul karena mereka telah kehilangan kepercayaan dari pelanggan mereka. Para pelanggan kehilangan kepercayaan setelah kekacauan pada peluncuran jasa layanan ONE pada bulan April yang lalu.

ONE merupakan perusahaan patungan yang didirikan oleh K Line, MOL, dan NYK. Ketiganya adalah perusahaan shipping besar yang berbasis di Jepang. K Line dan MOL masing-masing memegang saham ONE sebesar 31%, sedangkan 38% sisanya dimiliki oleh NYK.

Jeremy Nixon, selaku CEO dari ONE bersama dengan timnya sangat yakin bahwa ONE memiliki prospek yang baik. Mereka mengklaim nilai potensi keuntungan yang bisa diperoleh dari penghematan biaya sinergi ONE dapat mencapai 1 miliar Dolar Amerika per tahunnya. Ia juga mengatakan, ONE memiliki potensi untuk terus mendapatkan keuntungan pada 3 tahun pertama operasi. Mulai dengan perkiraan 110 juta Dolar Amerika pada tahun pertama, hingga 313 juta dan 648 juta Dolar Amerika pada 2 tahun berikutnya.

Kehilangan Kepercayaan Pelanggan

Namun, yang terjadi adalah sebaliknya. K Line mengatakan, peluncuran pada bulan April yang lalu terjadi secara ceroboh. Kecerobohan tersebut akhirnya menyebabkan ONE kehilangan kepercayaan para pelanggan mereka. Padahal, para pelanggan tersebut merupakan pelanggan setia ketiga perusahaan pemegang saham ONE yang telah menggunakan jasa mereka selama puluhan tahun.

Saat peluncuran pada bulan April yang lalu, terjadi masalah pada sistem IT milik ONE. Masalah tersebut menyebabkan para pelanggan tidak mampu mendapatkan informasi mengenai status kargo mereka. Bahkan, untuk memesan jasa kargo pun tidak dapat dilakukan oleh pelanggan.

Hingga 30 September, kerugian yang dilaporkan ONE kepada ketiga pemegang saham mereka mencapai 310 juta Dolar Amerika. Nilai kerugian tersebut merupakan kerugian yang diderita selama 6 bulan. Diperkirakan nilainya akan mencapai 600 juta Dolar Amerika untuk tahun pertama mereka.

Banyak Kendala

Jajaran direksi ONE beralasan, masalah terjadi karena adanya “teething problem” serta kurangnya staff. Hal tersebut menyebabkan turunnya tingkat lifting dan utilisasi. Selain itu, staff yang dimiliki tidak familiar dengan sistem IT NYK. Sehingga pada peluncuran bulan April lalu terjadi kekacauan.

Selain itu, naiknya harga bahan bakar membuat ONE gagal menghemat pengeluaran. Perang dagang antara Amerika Serikat dan China juga mempengaruhi performa ONE. Mereka bahkan harus meninjau ulang perkiraan bisnis tahun 2019 dan 2020 mereka setelah melihat kondisi saat ini.

Kini, ketiga investor utama ONE harus berusaha keras untuk menjelaskan kepada investor mereka akan start buruk dari ONE. Mereka akan memberikan penjelasan yang dapat diterima dalam acara laporan keuntungan terkait hasil setengah tahun ONE.

Di sisi lain, manajemen ONE akhirnya setuju untuk merubah rencana rasionalisasi mereka. Sebelumnya, mereka berusaha menghemat banyak biaya di berbagai lini. Namun, kini mereka setuju untuk menambah jumlah staff serta mempekerjakan pegawai baru. Hal ini dilakukan untuk mendapatkan kembali kepercayaan pelanggan mereka.

Meskipun demikian, beberapa shipper dan forwarder hanya mampu menunjukkan dukungan kepada ONE dengan melakukan pemesanan jasa mereka secara minimal. Hal ini terjadi karena mereka terlanjur terikat kontrak dengan penyedia jasa lain setelah kekacauan yang dilakukan oleh ONE.

 

Referensi:

  1. https://gcaptain.com/japans-one-carrier-network-flags-600-million-loss-in-first-year/

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *