FORWAMI: Diskusi Media “Peluang dan Tantangan Digitalisasi Logistik”

Pada tanggal 5 Maret 2019 yang lalu, FORWAMI, Forum Wartawan Maritim Indonesia mengadakan diskusi media. Diskusi ini merupakan salah satu rangkaian kegiatan dalam raker mereka di tahun 2019 ini. Diskusi yang bertemakan “Peluang dan Tantangan Digitalisasi Logistik di Indonesia” ini digelar di Jakarta. FORWAMI mengundang beberapa narasumber antara lain Kepala Otoritas Pelabuhan Utama Tanjung Priok, Ketua Umum berbaga DPP dari INSA, ALFI, ISAA, hingga APTRINDO.

Digitalisasi logistik adalah upaya modernisasi pelabuhan berbasis teknologi informasi. Tujuannya adalah untuk mendukung perkembangan sistem logistik nasional. Dengan berkembangnya logistik nasional, diharapkan indeks performa logistik Indonesia akan membaik.

LPI Meningkat

Logistik Performance Index, atau Indeks Performa Logistik Indonesia telah mengalami peningkatan nilai dan peringkat. Pada tahun 2017, nilai LPI Indonesia mencapai 2,98. Nilai tersebut membawa Indonesia pada peringkat 63. Sedangkan pada tahun 2018, nilai Indonesia naik hingga 3,15. Peningkatan tersebut diikuti dengan peningkatan rangking menjadi pada peringkat 46.

Pemerintah sendiri telah berkomitmen untuk terus bekerja keras agar nilai indeks kinerja logistik dapat meningkat menjadi lebih baik. Pemerintah berharap untuk dapat mewujudkan sistem logistik yang efektif, transparan, dan efisien. Beberapa langkah yang telah ditempuh pemerintah antara lain adalah dengan melakukan penataan birokrasi, peningkatan kapasitas SDM pelabuhan, hingga mengintegrasikan sistem teknologi informasi di pelabuhan.

Inaportnet

Digitalisasi pelabuhan sendiri merupakan salah satu wujud nyata dari arah kebijakan Kementerian Perhubungan cq Direktorat Jenderal Perhubungan Laut untuk tahun 2020 yang berupa peningkatan teknologi informasi. Pemerintah sendiri telah menerapkan sistem teknologi informasi di pelabuhan dalam bentuk penerapan sistem INAPORTNET 2.0 serta sistem Delivery Order Online di pelabuhan. Bahkan, pada tahun 2019 ini pemerintah berencana akan menerapkan INAPORTNET 2.0 di 16 pelabuhan tambahan. Pelabuhan yang akan menerapkan INAPORTNET 2.0 antara lain masing-masing dua pelabuhan kelas I dan kelas III, sebelas pelabuhan kelas II, serta satu pelabuhan kelas IV.

Penerapan INAPORTNET diharapkan dapat mengurangi antrian barang di pelabuhan, meningkatkan transparansi pelayanan, serta mengurangi waktu pelayanan. Hal ini diharapkan dapat mengurangi biaya logistik di pelabuhan.

Harapan pengurangan biaya logistik di pelabuhan sendiri juga disampaikan oleh Carmelia Hartoto, Ketua Umum DPP INSA. Carmelia mengatakan, tingginya biaya kepengurusan dokumen di pelabuhan merupakan masalah yang berat bagi para pengusaha jasa pelayaran. Hal ini membuat biaya angkutan laut menjadi mahal sehingga daya saing pelayaran berkurang. Dengan adanya digitalisasi pelabuhan ini, ia berharap pemerintah dapat memberi solusi lain untuk mengurangi biaya logistik pelabuhan sehingga dapat meningkatkan daya saing angkutan pelayaran.

 

Referensi:

  1. http://indoshippinggazette.com/2019/saatnya-pemerintah-jadikan-digitalisasi-logistik-sebagai-mandatory
  2. https://oceanweek.co.id/kemenhub-genjot-digitalisasi-di-pelabuhan/
  3. https://www.antaranews.com/berita/805581/digitalisasi-logistik-tingkatkan-efisiensi-biaya
  4. http://beritatrans.com/2019/03/05/dukung-logistik-nasional-kemenhub-terus-memodernisasi-pelayanan-pelabuhan/
  5. http://aksi.id/artikel/38200/Dukung-Logistik-Nasional-Kemenhub-Terus-Memodernisasi-Pelayanan-Pelabuhan/

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *