Perang Dagang US-China Berpotensi Menurunkan Pertumbuhan Ekonomi Asia

Asian Development Bank memperkirakan pertumbuhan ekonomi Asia akan semakin lesu. Hal ini disebabkan menurunnya permintaan barang dan tensi perdagangan antara China dan Amerika.

Perang dagang yang berkepanjangan antara Amerika Serikat dan China dapat merusak investasi serta pertumbuhan bagi wilayah berkembang di asia, ungkap Asian Development Bank.

Chief economist Asian Development Bank, Yasuyuki Sawada bahkan menurunkan perkiraan pertumbuhan bagi wilayah Asia menjadi 5,7 persen pada tahun ini dan 5,6 persen pada tahun depan. Penurunan ini dimulai pada tahun 2018. Tahun 2017, pertumbuhan berada pada nilai 6,2 persen. Tetapi pada tahun 2018 nilainya turun menjadi 5,9 persen. Nilai tersebut kemudian diperkirakan akan semakin turun untuk tahun 2019 dan 2020 mendatang.

Turunnya nilai perkiraan pertumbuhan wilayah Asia ini selain disebabkan oleh perang dagang berkepanjangan, juga disebabkan oleh proses brexit yang tengah dilakukan oleh Inggris. Kedua hal tersebut membuat terjadinya fluktuasi permintaan produk ekspor dari wilayah Asia. Fluktuasi permintaan global ini menyebabkan dampak perang dagang dan brexit terasa lebih berat bagi wilayah Asia.

Menghambat Pertumbuhan Perdagangan Dunia

World Trade Organization pun turut mengatakan bahwa perang dagang antar kedua negara adidaya tersebut telah menyebabkan terhambatnya pertumbuhan perdagangan dunia. WTO bahkan juga mengubah perkiraan pertumbuhan ekonomi global yang telah mereka keluarkan. Kini WTO memperkirakan bahwa pertumbuhan perdagangan global untuk tahun 2019 dan 2020 akan lebih lambat dibandingkan dengan tahun 2018.

Ahli ekonomi WTO memperkirakan pertumbuhan volume perdagangan barang akan turun menjadi 2,6 persen. Padahal tahun lalu nilai tersebut berada pada nilai 3 persen. Tetapi apabila tensi perang dagang antara China dan Amerika Serikat dapat menurun, maka pertumbuhan volume perdagangan diperkirakan akan naik kembali ke 3 persen pada tahun 2020 ungkap WTO. Pada bulan September, WTO memperkirakan pertumbuhan perdagangan tahun 2018 dapat mencapai 3,9 persen. Namun nilai tersebut kembali direvisi setelah melihat tensi perang dagang yang masih terus berlanjut.

Asian Development Bank memperkirakan pertumbuhan ekonomi china akan turun menjadi 6,3 persen pada tahun 2019 dan menjadi 6,1 persen pada tahun berikutnya. ADB telah mencatat ketidakstabilan dalam perdagangan dan manufaktur sejak perang dagang terjadi pada januari 2018 yang lalu. hal ini dimulai sejak tarif untuk baja, aluminium, mesin cuci dan panel surya diterapkan.

Referensi:

  1. https://www.scmp.com/economy/china-economy/article/3004515/us-china-trade-war-biggest-threat-asian-economies-growth

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *