Beranda » Berita » Pelayaran dan Perkapalan » Kewajiban Kapal Menggunakan Bahan Bakar Rendah Sulfur Dimulai 2020

Kewajiban Kapal Menggunakan Bahan Bakar Rendah Sulfur Dimulai 2020

  • by
Aturan IMO 2020 Sebabkan Rusia Merugi

Peraturan kapal wajib menggunakan bahan bakar rendah sulfur di Indonesia mendapat perhatian dari Indonesian National Shipowner’s Association (INSA). Dilansir dari Antara News, INSA mengaku telah berkoordinasi dengan pemerintah dan PT Pertamina terkait penyediaan bahan bakar kapal laut bersulfur rendah untuk memenuhi penetapan aturan baru Internasional Maritime Organization (IMO) yang akan diberlakukan 2020.

“Kami sudah berdiskusi dengan Direktorat Jenderal Perhubungan Laut Kemenhub dan Pertamina. Low sulphur itu tanggung jawab Pertamina untuk menyediakan bahan bakar kapal dengan spesifikasi sesuai ketentuan internasional.” kata Wakil Ketua Umum III DPP INSA Darmansyah Tanamas di Jakarta, dikutip Antara.

Peraturan Harus Dilakukan

Darmansyah mengatakan Pertamina mengakui membutuhkan waktu untuk bisa memenuhi aturan IMO 2020 tersebut.

Referensi Lain: Peraturan IMO 2020 Tidak Akan ditunda

Namun, hal itu tetap harus dilakukan lantaran sesuai UU Nomor 17 Tahun 2008 tentang Pelayaran. Pemerintah berkewajiban untuk menyediakan bahan bakar kapal laut sesuai volume dan kualitas yang dibutuhkan.

Referensi Lain: Peraturan IMO Mengenai Emisi Sulfur 2020

“Dalam diskusi dengan Pertamina, memang butuh waktu yang cukup untuk bisa comply dengan aturan (IMO) itu,” ujar Darmansyah.

Darmansyah mengingatkan agar jangan sampai Pertamina sebagai badan usaha penyedia tidak bisa memenuhi kebutuhan kapal laut. Pasalnya, hal itu diyakini akan sangat membebani usaha pelayaran karena dampaknya yang besar terhadap biaya operasional.

Berpengaruh Terhadap Operasional Kapal

Bahan bakar kapal laut sendiri, kata dia, berkontribusi sebesar 30-40 persen terhadap biaya operasional kapal secara keseluruhan. Dengan demikian, jika bahan bakar sulfur rendah tidak bisa didapatkan, pelaku usaha pelayaran harus menyiapkan peralatan tambahan untuk mengurangi kadar sulfur bahan bakar minyak.

Referensi Lain: Langkah Hapag Lloyd Menghadapi IMO 2020

“Bahan bakar ini 30-40 persen komposisinya dari biaya operasional kapal. Kalau naik, akan berdampak ke biaya operasional. Mau tidak mau ini akan dibebankan ke freight kapal. Ini perlu dipertimbangkan dengan baik,” ujar Darmansyah.

Seperti diketahui, IMO mewajibkan kapal-kapal Indonesia sudah harus menggunakan bahan bakar berkadar sulfur rendah, yakni berkadar 0,5 persen untuk mengurangi tingkat polusi udara.

Kewajiban itu akan mulai diberlakukan pada 1 Januari 2020 mendatang. Ada pun saat ini,kapal-kapal di Indonesia masih menggunakan bahan bakar berkadar sulfur 3,5 persen.

Penerapan kebijakan batasan kandungan sulfur 0,5 persen pada bahan bakar merupakan tindak lanjut sidang Sidang International Maritime Organization-Marine Environmental Protection Committee (IMO MEPC) ke 74 yang dihelat di Kantor Pusat IMO di London, Inggris, Mei lalu.

Sumber: Antara News

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *