Beranda » Berita » Sektor Terkait » Apa Dampak IMO 2020 Terhadap Pelaku Usaha?

Apa Dampak IMO 2020 Terhadap Pelaku Usaha?

  • by
IMO Sulphur Cap 2020

IMO 2020 yang membatasi kandungan sulfur dalam bahan bakar marine hingga 0,5 persen dapat memunculkan berbagai dampak potensial. Berbagai dampak potensial yang muncul tersebut telah diperhatikan secara detail oleh pakar minyak John Kingston dan Craig Fuller.

Bahan bakar pilihan saat ini untuk transportasi kapal adalah bahan bakar sulfur tinggi (High Sulphur Fuel Oil = HSFO). HSFO tidak lagi diizinkan untuk digunakan di bawah aturan baru Organisasi Maritim Internasional (International Maritime Organisation = IMO). Terkecuali jika kapal dilengkapi dengan scrubber yang dapat menghilangkan sulfur dari emisi sebelum mereka keluar dari tumpukan kapal.

Namun, scrubber adalah investasi multi-juta dolar dan menambah bobot pada kapal. Namun, jika harga HSFO cukup murah dibandingkan bahan bakar lain yang memenuhi persyaratan IMO 2020, pengeluaran modal yang dibutuhkan untuk menginstalnya dapat dipertimbangkan. Laporan tersebut dilansir dari FreightWaves New York.

Menyebabkan Regulasi Biaya

IMO 2020 berpotensi memengaruhi pengiriman dan pengangkutan. Dengan IMO 2020 yang sekarang berlaku, perbedaan harga HSFO dan bahan bakar alternatif memberikan tanda tentang apa yang akan menyebabkan regulasi biaya untuk sektor pengiriman. Harga HSFO pada akhir September hingga akhir 2019 turun 21 persen.

Sebaliknya, biaya grade baru bahan bakar yang memenuhi persyaratan IMO 2020, atau minyak bahan bakar sulfur yang sangat rendah (Very Low Sulphur Fuel Oil = VLSFO), naik 30 persen dibandingkan jangka waktu yang sama.

Bahan Bakar Alternatif

Produksi VLSFO akan sangat bergantung pada penggunaan produk olahan setengah jadi yang disebut minyak gas vakum (Vacuum Gas Oil = VGO). Lonjakan permintaan VGO yang diharapkan adalah satu jalan menuju kepatuhan yang dapat mengakibatkan kenaikan harga diesel.

VGO adalah bahan baku yang dapat digunakan untuk membuat diesel di luar transportasi darat maupun bensin. Dengan mengalihkannya ke produksi VLSFO, ia memiliki potensi untuk memperketat pasokan untuk diesel.

Ada alternatif kedua untuk menggunakan bahan bakar yang sesuai untuk IMO 2020 yang berpotensi berdampak pada pasar diesel. Produk yang disebut minyak gas laut (Marine Gas Oil = MGO) telah lama digunakan oleh kapal untuk memenuhi persyaratan IMO 2020.

Kapal-kapal yang terus menggunakan bahan bakar yang tidak sesuai peraturan akan ditolak masuk memasuki pelabuhan. Selain itu, perusahaan asuransi telah mengancam untuk menghapus cakupan kapal yang menggunakan bahan bakar tersebut. Namun, kemampuan pasar untuk memasok bahan bakar dalam jumlah yang memadai akan sebagian dipengaruhi oleh tingkat ketidakpatuhan yang diperkirakan oleh beberapa forecasters bisa mencapai 10 persen.

Referensi:

  1. http://www.imo.org/en/mediacentre/hottopics/pages/sulphur-2020.aspx
  2. https://maritimindonesia.com/2018/09/28/peraturan-imo-sulphur-cap-2020/
  3. https://www.freightwaves.com/news/what-does-imo2020-mean-and-how-does-it-impact-trucking-and-shipping-with-video

Baca Juga: Kesiapan Indonesia Menghadapi IMO 2020

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *